Emotional Buying Motive (Libatkan Emosi Dalam Menjual) Juli 30, 2008
Posted by Adib M in Sales.add a comment

Menyambung tulisan sebelumnya, bahwa pada akhirnya customer membeli produk kita adalah bukan sekedar membeli produk, namun dia juga membeli added value yang menyertai produk tersebut. Dari sekian banyak added value yang coba diangkat disini adalah tentang customer service yang diberikan kepada customer dengan tulus.
Customer service yang berhasil adalah customer service yang menyertakan ketulusan hati, customer service yang melibatkan emosi dalam melayani customernya. Sehingga dari ketulusan hati dan melibatkan emosi akan menghasilkan senyum yang tulus dan pelayanan yang sesungguhnya, bukan sekedar basa-basi.
Sebagaimana diketahui bahwa senyuman yang tulus dari dalam hati adalah bahasa general, bahasa pemersatu yang berasal dari hati orang yang penuh rasa cinta kasih dan kasih sayang. Senyum adalah bahasa general kedua setelah tangisan yang dimiliki oleh manusia ketika lahir dimuka bumi ini. Untuk itu wajar saat kita memberikan senyuman yang tulus dari dalam hati, maka kita bisa diterima dimana saja, karena senyuman yang tulus dari dalam hati adalah bahasa persatuan yang tidak mengenal perbedaan keyakinan, perbedaan persepsi dan perbedaan-perbedaan lainnya.
Maka dalam dunia bisnis, perusahan-perusahaan yang mampu memberikan customer service yang baiklah yang terus bertahan, karena dalam menjual produk yang dijual ternyata bukan hanya produknya saja namun juga added valuenya. Termasuk customer service antara atasan dengan bawahannya dan sebaliknya.
Bukankah sudah ada contoh yang baik selama berabad-abad yang lalu, yaitu ketika Nabi Muhammad diludahi oleh seseorang, beliau malah membalasnya dengan senyuman yang tulus dari dalam hati dan ketika mendengar orang yang meludahi sakit, justru beliaulah orang pertama yang menjenguknya.
(Suatu Malam Di Hotel Margosuko Malang)
Branding Joglosemar Juli 30, 2008
Posted by Adib M in Marketing.add a comment
Warga Joglosemar (JOGja soLO SEMARang) dimanjakan oleh alat trasnsportasi bus dengan branding bus pariwisata JOGLOSEMAR, yang bisa menghubungkan ketiga kota tersebut dari hotel ke hotel dan dari mal ke mal antar kota. Misalnya ketika kita naik bus pariwisata Joglosemar jurusan Jogja-Semarang maka kita bisa diantar dari Jl. Malioboro Jogja sampai ke Ciputra Mal Simpanglima Semarang, atau kalau kita naik jurusan Solo-Semarang kita bisa diantar dari Grand Mal Solo sampai ke Ciputra Mal Simpanglima Semarang. Tentu alat transportasi tersebut tujuannya adalah mensupport branding pariwisata yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah ketiga kota tersebut yaitu :
Jogja = Never Ending Asia
Solo = The Spirit of Java
Semarang = The Beauty of Asia (SPA = Semarang Pesona Asia)
Tujuannya agar para wisatawan dan investor bisa tertarik ketiga kota tersebut. Demikian juga pada tanggal 26 Agustus 2007 kemarin, telah berkumpul tiga provokator TDA dan membernya (TDA Jogja = Mas Bambang Triwoko, TDA Solo = MasBudi Prajitno dan TDA Semarang = Mas Tito).
Tujuannya adalah terjadinya kolaborasi untuk memajukan dan melakukan percepatan dibidang entrepreneurship di tiga kota JOGLOSEMAR, harapannya bisa menggali potensi-potensi di daerah, sehingga membantu pemerintah untuk mengurangi pengangguran dan kalau bisa sampai mengurangi jumlah kaum urban, kalau di daerah bisa kaya kenapa mesti ke Jakarta semua. Walaupun harapan tersebut tidaklah gampang, karena uang sebagian besar masih berputar di Jakarta. Namun dengan tekad optimisme gaya TDA diharapkan minimal mampu berkolaborasi bisnis di daerah dan menarik calon investor untuk berkolaborasi masuk ke Jogja, Solo dan Semarang.
Salam semangat untuk Mas Bambang Trowoko, Mas Budi Prajitno dan Mas Tito, tetap semangat untuk kemajuan Joglosemar.
Salam sukses untuk TDA Joglosemar.
(Suatu malam di Hotel Trims Jogjakarta)
Kita Akan Bermain Diposisi Yang Mana…??? Juli 30, 2008
Posted by Adib M in Marketing.add a comment
Pemasar dari belahan benua Eropa dan Amerika dikenal mampu membuat customer yang membeli produknya tidak begitu mempermasalahkan harga, kondisi ini berbeda dengan pemasar dari benua Asia yang dikenal selalu mencoba menyuguhkan produk-produk dengan harga murah bahkan jika perlu semurah-murahnya, akibatnya produk harus dijual dengan jumlah yang banyak, harus bermain volume dalam penjualan dan turn over produk harus tinggi agar mendapatkan margin yang diinginkan.
Sehingga dari dua orientasi tersebut akhirnya menghasilkan produk dengan quality, cost, delivery, savety dan moral yang berbeda pula, yang satu tinggi + mahal dan yang satunya lagi biasa-biasa saja bahkan cenderung rendah + murah.Dan sekarang kita akan bermain diposisi yang mana….?, ada sekitar empat posisi ketika kita akan bermain margin (keuntungan) dan turn over produk yang bisa digambarkan sebagai berikut :
1. High Margin + High Turn Over = margin tinggi + turn over produk tinggi.
2. High Margin + Low Turn Over = margin tinggi + turn over produk rendah.
3. Low Margin + High Turn Over = margin rendah + turn over produk tinggi.
4. Low Margin + Low Turn Over = margin rendah + turn over produk rendah.
Bisnis retail biasanya akan mengambil posisi yang ketiga yaitu Low Margin + High Turn Over, artinya mengambil margin (keuntungan) yang rendah dan harus menjual produk dengan volume turn over yang tinggi. Disini retail banyak bermain dengan volume, yang sangat nampak jelas diposisi ini adalah retail-retail sembako, dari mulai hypermarket sampai mini market. Para pemain retail diposisi ini sering melakukan juga strategy mix margin, ribet, potongan discount dari suplier, sewa tempat yang murah dibawah harga normal pada umumnya, dan strategy-strategy lainnya.
(17 Agustus 2007, di Tegal)


